midhan

Penampilan kesehariannya sederhana, apalagi ketika berada diarea perkolaman untuk mengamati perkembangan ikan patin yang dipeliharanya. Cukup dengan celana pendek dan berkaos oblong, terkadang dilengkapi topi purun yang sudah usang sekedar untuk menghindari teriknya sengatan matahari disiang hari. Karenanya, seringkali tamu maupun pembeli yang datang ke farmnya tidak menyadari kalau sosok yang berdiri dihadapannya adalah sang maestro patin dan pejuang kemajuan perikanan budidaya di Kalimantan Selatan. Itulah H. Midhan, pria paruh baya kelahiran 25 Maret 1954 di Kelua Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Menurut H. Midhan, usaha budidaya ikan yang ia lakoni sekarang ibarat tersesat di jalan yang benar. “Ini benar-benar hadiah dari Tuhan” tandasnya. Ia tak menyangka keputusan berani yang diambil sekian tahun silam akhirnya berbuah manis. Kala itu di tahun 80an Midhan muda yang baru menyelesaikan kuliah di Fakultas Kehutanan Unlam akhirnya bekerja sebagai pegawai negeri di Dinas Kehutanan. Tapi itu tak berlangsung lama, idealisme Midhan muda bertentangan dengan kebijakan pimpinannya. Tak lama berselang, iapun resmi mengundurkan diri bekerja di Dinas Kehutanan. Setelahnya ia malah diminta kembali bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Cukup lama ia mengabdi hingga akhirnya terjadi pergantian pimpinan. Sekali lagi Midhan merasa tidak sepaham dengan berbagai kebijakan yang diambil pimpinannya. Dan sekali lagi iapun mengambil keputusan yang sangat berani, berhenti sebagai pegawai negeri dan tidak akan pernah mau kembali meski diminta sekalipun.

H. Midhan memang layak disebut sebagai salah seorang pejuang perikanan di Kalimantan Selatan. Jasanya dalam mengembangkan pembesaran ikan mas dalam karamba di Kelua sampai kawasan Haur Gading, Telaga Silaba Kabupaten Hulu Sungai Utara sejak tahun 1982 sangat luar biasa. Kehidupan ekonomi masyarakat yang pada awalnya tergolong susah sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Deretan karamba yang berada disepanjang sungai Kelua terus bertambah dan masyarakat yang menjadikan pembesaran ikan mas di karamba sebagai tumpuan hidup juga makin meningkat. Hal ini didukung dengan harga pakan yang masih murah, dengan total biaya produksi per kilogram sebesar Rp.1.650,- dengan harga jual ikan mas sebesar Rp.4.750,- per kg maka nilai keuntungan yang didapat cukup besar.

DSCN2090

Tak hanya di kawasan Kelua, Midhan juga mengembangkan kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan dibeberapa tempat lainnya hingga akhirnya maju dan berkembang.

Seiring dengan berfungsinya saluran irigasi teknis Riam Kanan, tahun 1993 H. Midhan mengembangkan pembenihan dan pembesaran ikan mas dan nila di Desa Tungkaran Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar dengan luas lahan kurang lebih satu hektar. Meski pada awalnya ia dan pembudidaya lain banyak mendapat kendala karena dianggap menggunakan air irigasi tanpa ijin, pada akhirnya semua pihak yang selama ini menganggap kegiatannya ilegal akhirnya menyadari bahwa pemanfaatan air irigasi untuk budidaya ikan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sejak tahun 1997 ia lebih fokus memelihara ikan patin siam. Tak hanya pembesaran, pembenihan patin pun sempat ia lakoni. Ternyata pilihannya tepat, usaha pembesaran ikan patin yang dijalankannya makin berkembang dan permintaan pasar juga terus meningkat. Sedikit demi sedikit lahan terbengkalai yang berada disekitar farmnya ia beli. Kini tak kurang dari 100 ha lahan yang sudah ia miliki dan sudah dimanfaatkan menjadi perkolaman sekitar 32 ha. Untuk membantu mengelola farm pembesaran patin yang sedemikian luas, H.Midhan mempekerjakan karyawan sebanyak 20 orang dengan produksi ikan patin ukuran konsumsi yang dihasilkan farmnya mencapai 4 ton per hari dengan harga Rp.15.000 per kg, hasilnya ? omset perhari mencapai Rp. 60 juta. Yang jelas, bagi sang maestro materi bukanlah segalanya. Prinsip yang selalu ia pegang adalah bahwa hidup ini harus berguna bagi siapapun. Karena itulah ia tak segan berbagi ilmu pada pembudidaya lain yang datang ke farmnya.

Tak berpuas diri dengan hasil yang telah diperoleh, sang maestro patin terus melakukan inovasi agar biaya produksi bisa ditekan serendah mungkin, terutama mengantisipasi harga pakan ikan yang terus merangkak naik. Meski tidak terang-terangan, sang maestro menjelaskan bahwa dari pengalamannya sebetulnya ada trik dan kiat dalam memelihara patin agar tidak boros di pakan namun pertumbuhan tetap bisa dikejar. Dan ia telah membuktikannya, pada saat ikan patin yang ia pelihara telah mencapai usia dan ukuran panen, berat ikan patin miliknya tak jauh beda dengan patin yang rutin diberi makan tiap harinya. ”Kuncinya terletak pada pengaturan waktu dan jumlah pakan yang tepat sesuai kebutuhan ikan” paparnya.

H. Midhan juga bisa berbangga, pada 2010 farm miliknya juga telah mendapat sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) pembesaran ikan patin. Tak hanya itu sejak tahun 2009 sang maestro pun dipercaya sebagai Chairman of Catfish Club Indonesia. (Khairul Anwar-BBAT Mandiangin)

AdminSuccess Storiesbudidaya patin,midhan,patin
Penampilan kesehariannya sederhana, apalagi ketika berada diarea perkolaman untuk mengamati perkembangan ikan patin yang dipeliharanya. Cukup dengan celana pendek dan berkaos oblong, terkadang dilengkapi topi purun yang sudah usang sekedar untuk menghindari teriknya sengatan matahari disiang hari. Karenanya, seringkali tamu maupun pembeli yang datang ke farmnya tidak menyadari kalau...