Tim Penyusun : Bunasir, Aulia Ilmi, Andri Hariyadi, Arief Rochman, Rahmat Hidayat

Abstrak

Budidaya ikan papuyu telah dikembangkan dan diminati pembudidaya ikan di Kalimantan Selatan akan tetapi keunggulan ikan papuyu juga harus dipertahankan, upaya ini dapat dilakukan dengan  menggunakan induk yang berkualitas.

Upaya perbaikan mutu induk papuyu untuk menghasilkan benih yang berkualitas, diperlukan penyediaan calon induk ikan papuyu sebagai penghasil induk unggul bagi masyarakat pembudidaya. Tujuan kegiatan ini  adalah untuk memproduksi calon induk ikan papuyu hasil seleksi individu. Sedangkan sasarannya didapatkan calon induk dari hasil seleksi individu yang berkualitas baik.

Kegiatan dilaksanakan di BBAT Mandiangin dari bulan Januari – Desember 2012. Induk papuyu betina yang digunakan berasal dari 2 daerah yaitu Kapuas Kalimantan Tengah, Mandiangin, dan   persilangan kedua induk itu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pertambahan berat ikan papuyu Kapuas mencapai 24,11 g/ekor, ikan papuyu hasil persilangan (Kapuas-Mandiangin) mencapai 21,8 g/ekor, dan Mandiangin 21,8 g/ekor. Pertumbuhan relatif   papuyu Kapuas sebesar 177,460%, persilangan (Kapuas-Mandiangin) 160,334 %  dan Mandiangin 152,605 %. Konversi pakan papuyu Kapuas 2,052,  persilangan (Kapuas-Mandiangin) 2,5 sedangkan Mandiangin 2,58 dan sintasan mencapai 80 – 90 %. Kegiatan ini menghasilkan calon induk sebanyak 2000 ekor dengan  berat   50 – 75  g/ekor. Kualitas air diamati setiap kali melakukan sampling setiap bulannya. Hasil pengamatan kualitas air selama kegiatan  pH berkisar antara 4,02 – 5,80, DO berkisar antara  3,30 – 6,30 mg/l dan suhu berkisar antara 25,30 –  28,0 ºC.

Kata kunci :  Seleksi individu, ikan papuyu.

Induk papuyu hasil seleksi

I.  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu spesies ikan spesifik lokal di Kalimantan Selatan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai ikan konsumsi adalah ikan papuyu Anabas testudineus Bloch. Budidaya Ikan Papuyu telah dikembangkan dan diminati pembudidaya ikan di Kalimantan Selatan. Peluang pasar ikan ini masih terbatas di wilayah Kalimantan Selatan. Ikan spesifik lokal ini banyak  disajikan dalam upacara-upacara adat dan menjadi makanan favorit masyarakat Banjar di warung–warung hingga restoran berkelas. Harga ikan papuyu  dan permintaan pasar cukup tinggi sehingga memacu masyarakat untuk membudidayakannya mulai dari skala rumah tangga hingga massal.

Sejalan dengan kegiatan budidaya tersebut, masyarakat pembudidaya kini mulai memilih benih hasil budidaya. Hal ini disebabkan benih hasil budidaya lebih adaptatif terhadap lingkungan budidaya dibanding dengan benih dari alam dan ukuranya relative lebih seragam. Akan tetapi keterbatasan benih hasil budidaya masih menjadi kendala utama bagi pembudidaya. Tanpa produksi benih secara massal, pembudidaya terus mengandalkan benih dari penangkapan di alam yang mengakibatkan penurunan populasi papuyu di habitat alamnya.

Sebagai ikan konsumsi ikan papuyu memiliki banyak keunggulan, diantaranya harga mahal,  mudah dipelihara bahkan di tempat-tempat  yang kondisi airnya terbatas dan berkualitas rendah.  Dari berbagai macam keunggulan tersebut  menjadikan masyarakat tertarik untuk melakukan budidaya ikan papuyu ini.  Dengan demikian  ikan papuyu  menjadi komoditas unggulan  karena bernilai ekonomis tinggi.

Selain keunggulannya, ikan papuyu juga memiliki kelemahan, sehingga perlu dijaga kesehatannya, dipacu pertumbuhannya, dijaga kualitas induk dan benihnya agar tidak mengakibatkan kerugian bagi pembudidaya.  Untuk itu perlu diketahui sifatnya, kebiasaan hidup, dan syarat hidupnya. Teknik pembenihan maupun pembesarannya juga harus dikuasai dengan benar.  Dengan mengetahui kelemahannya maka akan  dapat  meminimalisir resiko pada kegiatan budidaya. Untuk membudidayakan ikan papuyu harus digunakan induk yang brkualitas baik.  Ikan papuyu  yang siap menjadi induk  adalah yang berumur  lebih dari satu tahun dan beratnya  lebih dari 100 gram.  Upaya ini dilakukan agar memperoleh  sperma dan telur yang berkualitas.  Sebaiknya induk jantan dan  betina tidak berasal dari daerah yang sama, sedangkan induk yang lain diambil dari tempat atau daerah lain.

Perkembangan budidaya ikan papuyu yang pesat  tanpa didukung  pengelolaan  induk yang baik dan benar  akan menyebabkan  induk mengalami penurunan kualitas.  Beberapa faktor  antara lain karena adanya  perkawinan sekerabat (inbreeding),  seleksi induk yang salah, penggunaan induk yang berkualitas rendah.  Penurunan kualitas ini  dapat dilihat dari  pematangan gonad kurang baik, derajat penetasan telur rendah, pertumbuhan lambat, dan mudah terserang penyakit.

Sebagai upaya perbaikan  mutu induk papuyu yang nantinya akan menghasilkan benih berkualitas, maka diperlukan upaya penyediaan calon induk untuk menghasilkan induk unggul bagi masyarakat pembudidaya.

1.2. Tujuan dan Sasaran

1.2.1. Tujuan

Mendapatkan informasi teknologi penyediaan calon induk ikan papuyu F1

1.2.2. Sasaran

Dihasilkan calon induk ikan papuyu F1sebanyak  1000 ekor  dengan berat 30 – 50 g/ekor.

 

II.  BAHAN DAN METODE

2.1. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan : benih ikan papuyu ukuran 3–5 cm, pupuk, kapur,  dan pakan komersial (pellet).

Alat yang digunakan : serok, pengukur  kualitas  air, penggaris, timbangan dan baskom.

Tempat pemeliharaan : Hapa ukuran 3m x 2m x 1 m,  kolam 3m x 7m x 1 m

2.2. Metode

2.2.1. Waktu dan Tempat

Kegiatan dilaksanakan di BBAT Mandiangin dari bulan Januari – Desember 2012 dengan rincian waktu : 2 bulan persiapan dan koordinasi, 1 bulan pembuatan proposal, 2 bulan pemijahan dan produksi benih , 6 bulan pemeliharaan benih (Pembesaran)  dan 1 bulan untuk pembuatan laporan.

2.2.2. Prosedur Pelaksanaan

Prosedur Pelaksanaan kegiatan ini meliputi :

2.2.2.1. Persiapan Kolam Pembesaran

  • Pembesaran ikan papuyu dilakukan pada kolam permanen 15 x 20 m2.
  • Kolam terlebih dahulu dilakukan pengeringan selama 1 hari untuk mematikan hama dan ikan pemangsa di kolam.
  • Pengapuran dilakukan dengan dosis 500 gram/ekor/m2 untuk mematikan hama dan penyakit ikan di kolam.
  • Dosis pemupukan 500 g/m2 untuk menumbuhkan pakan alami.
  • Dilakukan pengisian air ke kolam pendederan dan pengamatan pertumbuhan plankton.
  • Proses persiapan kolam pendederan memerlukan waktu selama 5 – 7 hari hingga tumbuh plankton (kolam siap untuk ditebar telur ikan papuyu).

2.2.2.2. Pemasangan Hapa

  • Hapa diikatkan pada tonggak kayu yang dipasang di pinggir kolam. Hapa yang terendam tertinggi 0,5 m.

2.2.2.3. Penebaran Benih

  • Sebelum ditebar, ikan ditimbang untuk memngetahui berat awal dan individu sebanyak 1000 ekor, kisaran panjang benih 3 – 5 cm.
  • Penebaran dilakukan pagi hari untuk menghindari stres akibat perbedaan suhu air. Benih ditebar dengan menggunakan baskom dimasukkan secara perlahan ke dalam hapa.
  • Pemeliharaan dilakukan di hapa ukuran 4m x 4m x 3m dengan padat tebar 50 ekor/m2.

2.2.2.4. Pemeliharaan di Hapa

  • Untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup serta jumlah pakan yang diberikan maka dilakukan sampling panjang dan berat benih setiap bulan sekali.
  • Perlakuannya sebagai berikut :
    • A pembesaran ikan papuyu Mandiangin
    • B pembesaran ikan papuyu Kapuas
    • C pembesaran ikan papuyu hasil persilangan Kapuas +Mandiangin
  • Pemberian pakan sebesar 5 % dari bobot biomassa perhari

2.2.2.5. Parameter yang Diamati

  1. Pertumbuhan Mutlak Individu, yang dinyatakan dalam pertambahan berat rata-rata (g) dan pertambahan panjang baku rata-rata (cm).
  2. Pertumbuhan Relatif Berat.
  3. Sintasan, yaitu kelangsungan hidup selama pemeliharaan adalah persentase dari jumlah tebar sampai panen yang hidup.
  4. Konversi Pakan (FCR), yaitu nilai ubah dari jumlah makanan yang diberikan selama pengamatan.
  5. Kualitas Air, dimana kualitas air yang diamati dalam kegiatan ini adalah suhu dan pH.  Pengamatan kualitas air dilakukan setiap bulan sekali.

 

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil dari kegiatan  pembesaran ikan papuyu dalam kolam dan hapa dengan masa pemeliharaan 6  bulan didapatkan data : berat populasi ikan, pertambahan berat populasi ikan, panjang baku ikan, pertumbuhan relatif, , dan konversi pakan. Selain itu juga data kualitas air sebagai data penunjang. Pembahasan data akan diperinci dalam beberapa bagian yaitu : pertumbuhan relatif, konversi makanan, faktor kondisi dan kualitas air (suhu, DO, dan pH).

3.1. Pertumbuhan Mutlak Individu

Hasil kegiatan diperoleh data pertambahan panjang dan berat rata-rata ikan yang dipelihara selama 6 bulan, yang disajikan pada tabel 1.

Tabel 1.  Pertambahan Panjang dan Berat Rerata Ikan Selama Pemeliharaan

No Perlakuan Pertumbuhan Berat (gram) Pertambahan Panjang (cm)
Tebar Panen Tebar Panen
1. Mandiangin  . 1. 9.3848 22.5100 5.9833 9.4600
2. 8.2437 21.8750 6.1307 9.2140
Rerata 8.8150 22.1900 6.0550 9.3370
2. Kapuas 1. 8.2474 24.1100 5.8850 9.5000
2. 8,9670 23.5460 6.2095 9.8100
Rerata 8.6100 23.830 6.0500 9.6550
3. Kapuas×Mandiangin 1. 10.1547 21.7680 6.3450 9.0120
2. 6.9007 21.1350 5.6050 9.1230
Rerata 8.5280 21.4520 5.9750 9.0680

Dari tabel dapat dilihat bahwa pertumbuhan mutlak individu yang tertinggi terjadi pada ikan papuyu dari Kapuas dengan  mencapai ukuran panjang akhir  9,655 cm/ekor dan berat akhir  23,83 g/ekor, sedangkan pertumbuhan berikutnya adalah ikan papuyu dari Mandiangin  mencapai ukuran panjang 9,337 cm/ekor dan berat akhir rerata 22,19 g/ekor.

3.2. Pertumbuhan Relatif

Pertumbuhan  adalah proses pertambahan ukuran panjang dan berat dalam suatu periode tertentu.  Pengambilan data pertumbuhan dilakukan sebulan sekali pada masing-masing perlakuan yang meliputi ; berat populasi, pertambahan berat populasi dan pertumbuhan. Data pertumbuihan relatif disajikan pada tabel 2 berikut.

Tabel 2.  Pertumbuhan Relatif (%) ikan papuyu yang dipelihara dalam kolam selama pemeliharaan

No. Perlakuan Nilai Pertumbuhan relatife (%)
1. Mandiangin  . 1. 139.856
2. 165.354
Rerata 152.605 ± 6.2043
2. Kapuas 1. 192.335
2. 162.585
Rerata 177.460 ± 2.3188
3. Kapuas×Mandiangin 1. 114.363
2. 206.304
Rerata 160.334 ± 1.6335

Sumber : Data pengamatan

Pertumbuhan relatif tertinggi selama masa pemeliharaan adalah pada ikan papuyu dari Kapuas dengan nilai 177.4600 ± 2.3188 % , sedangkan untuk pertumbuhan relatif dari persilangan Kapuas dan Mandiangin adalah 160.3340 ± 1.6335 %, Pertumbuhan relatifnya terendah adalah ikan papuyu dari Mandiangin dengan nilai 152.605 ± 6.204 %. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan seperti pengaruh faktor genetik yang tidak terkontrol lagi (ikan papuyu Mandiangin) sehingga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.

Secara umum pertumbuhan benih ikan papuyu pada kegiatan ini dapat mencapai kisaran pertumbuhan antara 30 – 50  g/ekor pada pemeliharaan selama 6 bulan.

3.3. Konversi Pakan

Konversi pakan dihitung untuk mengetahui kualitas pakan yang diberikan bagi pertumbuhan ikan.  Jumlah makanan setiap hari yang diberikan akan mengalami perubahan pada periode-periode tertentu berdasarkan pertumbuhan atau pertambahan berat ikan yang dipelihara.

Besar kecilnya konversi pakan juga merupakan gambaran tentang efisiensi pakan yang diberikan.  Adapun konversi pakan masa pemeliharaan  dapat dilihat pada lampiran 5, sedangkan nilai konversi pakan pada akhir pemeliharaan disajikan pada tabel 3.

Tabel 3.  Nilai konversi pakan ikan papuyu selama pemeliharaan

No. Perlakuan Nilai Konversi Pakan
1. Mandiangin  . 1. 2.58
2. 2.43
Rerata 2.505
2. Kapuas 1. 2.049
2. 2.056
Rerata 2.052
3. Kapuas+Mandiangin 1. 2.53
2. 2.58
Rerata 2.560

Sumber : Data pengamatan

Pada Tabel diatas terlihat bahwa nilai konversi pakan pada pemeliharaan ikan papuyu dari Kapuas lebih kecil dari ikan papuyu lainnya yaitu sebesar  2.052 kemudian diikuti ikan papuyu hasil persilangan Kapuas-Mandiangin. Hal ini menunjukan bahwa ikan papuyu Kapuas yang dipelihara di kolam lebih baik dibanding dengan yang dipelihara di happa.

3.4. Sintasan

Sintasan selama masa pemeliharaan adalah prosentase jumlah ikan tebar sampai panen yang hidup . Sintasan ikan papuyu dari Kapuas selama masa pemeliharaan mencapai 80 %, ikan papuyu hasil persilngan mencapai 74,60%, dan ikan papuyu Mandiangin mencapai 70,90 %. Data sintasan ikan papuyu disajikan pada tabel 4.

 Tabel 4.  Sintasan bulanan pada pembesaran ikan papuyu selama masa pemeliharaan

No. Perlakuan Tebar (Ekor) Panen (Ekor) Sintasan
1. Mandiangin  . 1. 500 362 72,40 %
2. 500 347 69,40%
Rerata 70.90 %
2. Kapuas 1. 500 402 80,40%
2. 500 398 79,60 %
Rerata 80,00 %
3. Kapuas+Mandiangin 1. 500 372 74,40 %
2. 500 374 74,80%
Rerata 74,60 %

3.5. Pemilihan calon Induk

Setelah kegiatan selesai dilakukan pemilihan calon induk dengan kriteria :

  • Tubuh tidak cacat (sirip lengkap, bentuk kelamin normal, dan mata)
  • Bentuk tubuh simetris/normal (tidak bengkok/kerdil)
  • Gerakan lincah/gesit
  • Ukuran lebih besar dari yang lain
  • Warna tubuh coklat kehitaman cerah

Calon induk yang terpilih sebanyak 2000 ekor dengan  berat  mencapai 30 – 50  g/ekor, yang terbagi dalam berbagai ukuran calon induk sebanyak 530 ekor dengan  berat  ≥ 50  g/ekor , sedangkan selebihnya ukuran calon induk dengan berat  ≥ 30 g/ekor  sebanyak 1.470 ekor.

3.6. Kualitas Air

Kualitas air diamati setiap kali melakukan sampling setiap bulannya. Data hasil pengamatan kualitas air disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5.  Data Kualitas air pembesaran ikan papuyu

No. Parameter Nilai Kualitas air pada Bulan ke- Kisaran
0 1 2 3 4 5
1. pH 5,32 4.02 5.8 5.74 5.74 5.74 4,02 – 5,80
2. DO (ppm) 5,00 5.44 6.3 4.1 4.1 3.3 3,30 – 6,30
3. Suhu ( oC ) 27 26.4 25.3 28 28 27.6 25,30 –  28,-
4. NH3 (ppm) 0.8  

Sumber : Data hasil pengamatan

 

IV.  KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

  1. Pertambahan berat ikan papuyu hasil persilangan (Kapuas+Mandiangin) mencapai 21.8 g/ekor, papuyu kapuas mencapai 24.11 g/ekor. Dam mandiangin 21.8 g/ekor.
  2. Pertumbuhan Relatif papuyu Kapuas 177.460 ± 2.3188 %  ,  persilangan ikan Papuyu Kapuas dan Ikan papuyu Mandiangin  334 ± 1.6335 % dan ikan papuyu Mandiangin 152.605 ± 6.2043%.
  3. Konversi pakan : Ikan papuyu dari Kapuas 052, sedangkan persilangan (Kapuas+M.angin) 2.5
  4. Sintasan selama pemeliharaan ikan papuyu dari Kapuas 80 %, ikan papuyu hasil persilngannya 74,60%, dan ikan papuyu Mandiangin 70,90 %.
  5. Hasil pemilihan tersebut didapat calon induk sebanyak 2000 ekor dengan berat  mencapai 30 – 50  g/ekor , yang terbagi dalam berbagai ukuran yaitu sebanyak 530 ekor dengan  berat  ≥ 50  g/ekor, selebihnya calon induk dengan berat  ≥ 30 g/ekor  berjumlah 1.470 ekor.

4.2. Saran

  1. Perlu dilakukan percobaan yang sama dengan jenis ikan dan lokasi yang berbeda sehingga diketahui jenis ikan dan asal ikan yang tepat untuk dibudidayakan.
  2. Perlu dilakukan penyebaran produk ke pembudidaya untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
  3. Perlu perbaikan dalam pendataan kegiatan secara detail untuk mendukung data dalam persiapan rillis ikan papuyu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bunasir et al, 2004. Pengembangan Budidaya Ikan Papuyu Skala Usaha di Indonesia. Makalah dalam Pertemuan Teknis Lintas UPT Pusat DJPB Tanggal 4 – 7 Oktober 2004 di Bandung. Loka Budidaya Air Tawar Mandiangin Kalimantan Selatan. 40 halaman.

Cahyono, Bambang. 2001. Budidaya Ikan Air Tawar.. Kanisius . Yogyakarta.

Effendi, Ichsan. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Iqbal. 2007. Genetika Perikanan. Kanisius  Yogyakarta

Kordi, K. M. G., 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Rineka Cipta. Jakarta. 194 halaman.

Murdjani, M., 1999. Budidaya Ikan Bersirip di Indonesia. Makalah dalam Seminar dan Pameran Budidaya Ikan Laut di Indonesia Tanggal 26 – 27 Agustus 1999 di Jakarta. 28 halaman.

Murtidjo, Bambang. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar.  Kanisius. Jakarta

Pellokila N.A.Y. 2009.Biologi Reproduksi Ikan Betok ( Anabas testudineus Bloch ) di Rawa Banjiran DAS Mahakam Kalimantan Timur.

Rahmat Hidayat, George Fauzan TM, Edi Al Azhar, 2009. Produksi Benih Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch) dengan Sistem Penebaran Telur pada Kolam. Laporan Perekayasaan. Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin. 27 halaman.

Widodo, P., Bunasir, Fauzan G., dan Syafrudin, 2006. Peningkatan Produksi Benih Ikan Papuyu di Kolam Permanen. Laporan Perekayasaan. Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin. 18 halaman.